Konsep Menulis Laporan Ilmiah
Disusun Oleh
Baskoro
11113643
3KA12
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang karena anugerah dari-Nya saya dapat
menyelesaikan makalah tentang "Konsep Menulis Laporan Ilmiah" ini.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita,
yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan kepada kita jalan yang lurus
berupa ajaran agama Islam yang sempurna dan menjadi anugerah serta rahmat bagi
seluruh alam semesta.
Saya menulis makalah ini atas tugas yang diberikan oleh Ibu Rafiqa Maulidia,
S.IP. selaku dosen mata kuliah softskill Bahasa Indonesia 2.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan saya dengan senang hati menerima kritik dan saran agar makalah ini
bisa menjadi lebih baik lagi.
Depok,
10 Mei 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode
Ilmiah merupakan suatu cara sistematis yang digunakan oleh para ilmuwan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi. Metode ini menggunakan langkah-langkah yang
sistematis, teratur dan terkontrol. Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian
disebut metode ilmiah.
Metodis, berarti dalam
proses menemukan dan mengolah pengetahuan menggunakan metode tertentu, tidak
serampangan. Sistematis, berarti dalam usaha menemukan kebenaran dan
menjabarkan pengetahuan yang diperoleh, menggunakan langkah-langkah tertentu
yang teratur dan tearah sehingga menjadi suatu keseluruhan yang terpadu.
Penelitian adalah langkah
sistematis dalam upaya memecahkan masalah. Penelitian merupakan penelaahan
terkendali yang mengandung dua hal pokok yaitu logika berpikir dan data atau
informasi yang dikumpulkan secara empiris. Logika berpikir tampak dalam
langkah-langkah sistematis mulai dari pengumpulan, pengolahan, analisis,
penafsiran dan pengujian data sampai diperolehnya suatu kesimpulan. Informasi
dikatakan empiris jika sumber data mengambarkan fakta yang terjadi bukan
sekedar pemikiran atau rekayasa peneliti. Penelitian menggabungkan cara
berpikir rasional yang didasari oleh logika atau penalaran dan cara berpikir
empiris yang didasari oleh fakta atau realita.
Penelitian sebagai
upaya untuk memperoleh kebenaran harus didasari oleh proses berpikir
ilmiah yang dituangkan dalam metode ilmiah. Metode ilmiah adalah kerangka
landasan bagi terciptanya pengetahuan ilmiah. Penelitian yang dilakukan
menggunakan metode ilmiah mengandung dua unsur penting yakni pengamatan
“observation" dan penalaran “reasoning". Metode ilmiah didasari oleh
pemikiran bahwa apabila suatu pernyataan ingin diterima sebagai suatu kebenaran
maka pernyataan tersebut harus dapat diverifikasi atau diuji kebenarannya
secara empirik “berdasarkan fakta".
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah konsep laporan ilmiah?
2. Apa saja jenis-jenis laporan ilmiah?
3. Apa saja proses penyusunan laporan
ilmiah?
4. Bagaimana persyaratan menulis laporan
ilmiah?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui konsep laporan ilmiah
2. Mengetahui jenis-jenis laporan ilmiah
3. Mengetahui proses penyusunan laporan
ilmiah
4. Mengetahui persyaratan menulis
laporan ilmiah
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Laporan Ilmiah
Konsep dari laporan ilmiah adalah berkaitan dengan penelitian, fakta, dan
objektif dari permasalahan yang dibahas dalam laporan ilmiah. Maka laporan
ilmiah itu harus objektif dan sesuai dengan fakta yang ada, serta disusun
secara sistematis.
·
· Pengertian Karya Ilmiah
Karya ilmiah adalah hasil pemikiran seorang ilmuan (yang berupa
hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni yang diperoleh melalui kepustakaan, kumpulan pengalaman, penelitian dan
pengetahuan orang sebelumnya (Setiawan, 2010 : 51).
·
· Penyusunan Karya Ilmiah
Penyusunan karya ilmiah harus memnuhi kaidah, antara lain :
1.
Penyebutan sumber tulisan yang jelas.
Jika penyusunan karya ilmiah mengutip pendapat orang lain, maka sumber kutipan
itu harus disebutkan dengan jelas dan lengkap.
2.
Memenuhi kaidah penulisan kata, frasa, dan kalimat yang sesuai
dengan bahasa yang baik dan benar (Wardani, 2007 : 20).
Ciri-ciri bahasa keilmuan sebagai media karya ilmiah antara
lain:
1.
Reproduktif, artinya bahwa maksud yang ditulis oleh penulisnya
diterima dengan makna yang sama oleh pembaca.
2.
Tidak ambigu, artinya tidak bermakna ganda akibat penulisnya
kurang menguasai materi atau kurang mampu menyusun kalimat dengan subjek dan
predikat yang jelas.
3.
Tidak Emotif, artinya tidak melibatkan aspek perasaan penulis.
Hal-hal yang diungkapkan harus rasional, tanpa diberi tambahan pada
subjektifitas penulisnya.
4.
Penggunaan bahasa baku dalam ejaa, kata, kalimat dan paragraf.
Penulis harus menggunakan bahasa mengikuti kaidah tatabahasa agar tulisannya
tidak mengandung salah tafsir bagi pembaca.
5.
Penggunaan istilah keilmuan, artinya penulis karya ilmiah harus
mempergunakan istilah-istilah keilmuan bidang tertentu sebagai bukti penguasaan
penulis terhadap ilmu yang tidak dikuasai oleh penulis pada bidang yang lain.
6.
Bersifat dekoratif, artinya penulis dalam karya ilmiah harus
menggunakan istilah atau kata yang hanaya memiliki satu makna.
7.
Rasional, artinya penulis harus menonjolkan keruntutan pikiran
yang logis, alur pemikiran yang lancer, dan kecermatan penulisan.
8.
Ada kohesi antarkalimat pada setiap paragraf dalam setiap
bab.
9.
Bersifat straightforward atau langsung ke sasaran. Tulisan
ilmiha hendaknya tidak berbelit-belit, tetapi langsung ke penjelasan atau
paparan yang hendak disampaikan kepada pembaca. Penggunaaan kalimat efektif,
artinya kalimat itu padat berisi, tidak berkepanjangan (bertele-tele), sehingga
makna yang hendak disampaikan kepada pembaca tepat mencapai sasaran(Rahayu, 207
: 50).
2.2
Jenis-Jenis Laporan Ilmiah
1. Laporan Lengkap (Monograf) adalah laporan hasil penelitian
yang lengkap atau berisi:
·
Proses penelitian secara menyeluruh dengan mengutarakan semua
teknik dan pengalaman peneliti dalam melaksanakan penelitian.
·
Teknik penulisan harus menjelaskan hal-hal yang sebenarnya
terjadi
·
Menjelaskan hal-hal yang sebenarnya terjadi di setiap tahap
analisis misalnya tentang penggantian/penukaran teknik/model yang digunakan.
·
Menyampaikan kegagalan yang dialami dan kendala yang dihadapi
·
Organisasi laporan harus disusun secara sistematis (misalnya:
judul bab, subbab dan seterusnya, haruslah padat dan jelas).
2. Artikel Ilmiah
·
Artikel ilmiah biasanya merupakan peranan dari laporan lengkap.
·
Isi artikel ilmiah harus difokuskan kepada masalah penelitian
tunggal yang obyektif.
·
Artikel ilmiah merupakan pemantapan informasi tentang
materi-materi yang terdapat dalam laporan lengkap.
3. Laporan Ringkas
Laporan ringkas adalah penulisan kembali
isi laporan atau artikel dalam bentuk yang lebih mudah dimengerti dengan bahasa
yang tidak terlalu teknis (untuk konsumsi masyarakat umum). Laporan ini hanya
memuat temuan-temuan utama saja tanpa menyajikan desain dan metode yang dipakai
dalam melakukan penelitian.
4. Laporan untuk Administrator dan
Pembuat Keputusan
Laporan yang memuat tentang hal-hal
penting dalam pembuatan keputusan oleh pihak pimpinan. Laporan ini tidak perlu
dalam bentuk lengkap, karena pihak adminidstrator dan pembuat kebijakan tidak
memerluhkan laporan demikian.
5. Kerangka laporan Ilmiah terdiri dari
:
1) Bagian Pembuka
·
o Cover
·
o Halaman judul
·
o Halaman pengesahan
·
o Abstraksi
·
o Kata pengantar
·
o Daftar isi
2) Bagian Isi
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar belakang masalah
1.2 Perumusan masalah
1.3 Pembahasan atau pembatasan masalah
1.4 Tujuan penelitian
1.5 Manfaat penelitian
Bab II Kajian teori atau tinjauan keputusan
2.1 Pembahasan teori
2.2 Kerangka pemikiran dan argumentasi keilmuan
2.3 Pengajuan hipotesis
Bab III Metodologi penelitian
3.1 Waktu dan tempat penelitian
3.2 Metode dan rancangan penelitian
3.3 Populasi dan sampel
3.4 Instrumen penelitian
3.5 Pengumpulan data dan analisis data
Bab IV Hasil penelitian
4.1 Jabaran Variabel penelitian
4.2 hasil penelitian
4.3 Pengajuan hipotesis
4.4 Diskusi ppenelitian, mengungkapkan pandangan teoritis
tentang hasil yang didapatkan.
Bab V Penutup
5.1 Kesimpilan
5.2 Saran
3) Bagian penunjang
·
Daftar pustaka
·
Lampiran- lampiran antara lain instrument penelitian
·
Daftar tabel
Sedangkan macam-macam laporan ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Laporan Periodis
Laporan yang diserahkan setiap periode regular dan dimaksudkan
untuk menyediakan informasi tentang status organisasi atau aktivitasnya.
Laporan bulanan, triwulan, atau catur wulan atau tahunan oleh Kepala Bagian,
Kepala Sekolah atau Pemimpin Pesero kepada pemegang pesero adalah contoh-contoh
laporan periodis.
2. Laporan Kemajuan
Laporan yang disertakan guna menyediakan informasi tentang
kemajuan suatu rencana usaha, seperti pembangunan bendungan dan proyek
penelitian.
3. Laporan Hasil Uji
Laporan yang diserahkan guna menyediakan laporan tangan pertama
tentang pengetahuan suatu benda(biasanya berupa kesimpulan), seperti
kondisisuatu bangunan, pabrik atau sumber alam.
4. Laporan Rekomendasi
Laporan yang diserahkan guna menyediakan keterangan dasar atau
pujian terhadap sesuatu guna pertimbangan dalam tindakan berikutnya. Misalnya,
laporan tentang letak daerah atau lokasi pabrik atau gedung bioskop, dan
nasihat cara menaikkan efisiensinya.
5. Laporan Penelitian
Laporan yang diserahkan untuk memberi tahu tentang penemuan yang
tidak diketahui sebellumnya dan diperoleh dari percobaan, penyelidikan,
kuesioner, data akumulasi, dan sebagainya. Berbagai laboratorium lembaga
penelitian, universitas, stasiun pertanian, stasiun meteorology, kantor
pemerintah, dan organisasi penelitian swasta secara tetap menerbitkan
laporan-laporan itu.
Dengan melihat penggolongan laporan ilmiah tersebut, suatu
prinsip yang dapat ditemui dalam setiap laporan ilmiah adalah kaidah-kaidh
ilmiahnya, yang mungkin berbeda-beda menurut setiap bidang ilmu. Walaupun
sangat beragam dan variatif, macam, laporan ilmiah dapat dikategorikan menjadi
hal-hal berikut:
1. Laporan Kemajuan
Laporan yang disampaikan untuk melihat perkembangan kemajuan
atau langkah yang telah ditempuh, untuk melihat kemungkinan munculnya kesulitan
dan bagaimana rencana antisipasinya.
2. Laporan Akhir
Laporan ini dapat didahului laporan kemajuan untuk melihat
pencapaian yang diperoleh antara yang dicerminkan dalam usulan penelitian,
laporan kemajuan dan laporan akhir.
3. Laporan Berkala
Laporan ini disusun untuk melihat suatu kinerja yang melibatkan
karakter keilmiahan, dalam suatu periode waktu tertentu sehingga dapat
diperoleh suatu gambaran dinamika dari periode yang satu dengan periode
lainnya.
4. Laporan Hasil Uji
Laporan ini peru juga menyertakan rekomendasi, setelah
disampaikan informasi ilmiah ilmiah tentang tentang sesuatu, karena
dimungkinkan akan menjadi dasar suatu kebijakan tertentu.
2.3 Proses Penyusunan Laporan
Ilmiah
Dalam menyusun karya
ilmiah ada berbagai tahapan yang diperlukan antaralain adalah sebagai berikut :
1. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan, penulis suatu karya ilmiah harus
mempersiapkan topik. Hal ini berarti penulis harus menentukan apa yang dibahas
dalam tulisan. Kadang-kadang topik ditentukan oleh dosen, tetapi kadang
pemilihan topik ditentukan oleh mahasiswa itu sendiri secara bebas. Topik dapat
dipilih misalnya mengenai persoalan kemasyarakatan, pertanian, manajemen,
sumber daya manusia, hukum, dan sebagainya. Tahap persiapan atau prapenulisan
adalah ketika penulis menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan
masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran terhadap
realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, mengamati, dan lain-lain yang
memperkaya masukan kognitif yang akan diproses selanjutnya. Dalam tahap
persiapan dilakukan:
·
Pemilihan masalah atau topik dan mempertimbangkan
·
Topik yang akan di pilih harus yang ada di sekitar penulis.
·
Topik yang di pakai harus topik yang paling menarik dari topik
yang ada.
·
Pembahasan harus terpusat pada segi lingkup sempit dan terbatas.
·
Memilki data dan fakta yang obyektif dan mencukupi.
·
Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya meskipun sedikit.
·
Harus memiliki sumber acuan atau bahan kepustakaan yang bisa
dijadikan referensi.
·
Pembatasan topik atau penentuan judul
·
Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah
dilakukan.
·
Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisn karya ilmiah
atau setelah selesai penulisan karya ilimiah tersebut.
·
Penentuan judul karya ilmiah harus dapat menjawab dari
pertanyaan yang mengandungunsure 4W + 1H yakni what (apa), why (kenapa), who
(siapa), where (dimana) dan how (bagaimana).
·
Pembuatan kerangka karangan (outline)
·
Membimbing untuk memulai menyusun kerangka karangan.
·
Membuat pedoman penulisan karya ilmiah sehingga tidak menjadi
tumpang tindih dalam penulisannya.
·
Pembuatan rencana daftar isi dari karya ilmiah. 2.
·
Tahap Pengumpulan Data
2. Tahap pengumpulan data dilakukan
melalui pengamatan peristiwa, mencari informasi melalui wawancara informan,
mencari informasi melalui pencatatan dokumen dalam kartu data, melakukan
eksperimen di laboratorium, melakukan rekaman audio, dan catatan lapangan yang
lengkap yang diperlukan dalam tahap-tahap penelitian. Pada tahap pengumpulan
data hal yang di lakukan antara lain sebagai berikut :
·
Pencarian berbagai keterangan dari bahan bacaan atau referensi
tentang karya tulis yang kita buat.
·
Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah
yang akan dijadikan tema dalam karya ilmiah.
·
Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti dan
dijadikan tema dari karya ilmiah.
·
Melakukan percobaan di labolatorium atau pengujian data di
lapangan.
3. Tahap Pengorganisasian atau
Pengonsepan
Setelah kita mengumpulkan berbagai data yang kita peroleh, maka
tahap selanjutnya tahap pengonsepan data. Pada tahap pengonsepan ini adalah
kita melakukan penyeleksian data yang kita peroleh dari berbagai refensi dan
sumber media yang membantu proses dalam karya ilmiah kita dan kemudian kita
mengelompokan bahan dari berbagai referensi.
Pengelompokan bahan untuk mengorganisasikan bagian mana yang
akan temasuk dalam karya ilmiah, data yang telah terkumpul diseleksi kembali
dan dikelompokan sesuai jenis, sifat dan bentuk data. Pengkonsepan karya ilmiah
dilakuakn sesuai dengan urutan dalam kerangka karangan yang telah ditetapkan.
4. Tahap Penyuntingan Konsep
Sebelum mengetik konsep, penelitian harus memeriksa data yang
sudah dianalisis tersebut. Hal-hal yang tidak koheren atau penjelasan yang
berulang-ulang dapat diedit. Pada tahap ini bertujuan untuk Melengkapi data
yang dirasa masih kurang. Membuang dan mengedit data yang dirasa tidak relevan
serta tidak cocok dengan pokok bahasan karya ilmiah.
Mengedit setiap kata-kata dalam karya ilmiah untuk menghindari
penyajian bahan- bahan secara berulang-ulang atau terjadi tumpang tindih antara
tulisan satu dengan tulisan yang lain. Mengedit setiap bahasa yang ada dalam
karya ilmiah untuk menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif,
contoh dalam penyusunan dan pemilihan kata, penyesuaian kalimat,
penyesuaian paragraf, maupun penerapan kaidah ejaan sesuai EYD.
5. Tahap Penyajian
Dalam tahap penyajian, peneliti siap menyusun karya ilmiah
tersebut untuk dibaca orang lain. Maka, penataan segi teknis dan materi harus
diperhatikan dengan cermat oleh peneliti karya ilmiah. Teknik penyajian
karya ilmiah harus dengan memperhatikan :
·
Segi kerapian dan kebersihan karya ilmiah itu.
·
Tata letak (layout) unsur-unsur dalam format karya ilmiah, misal
pada halaman pembuka, halaman judul, daftar isi, daftar table, daftar grafik,
daftar gambar, daftar pustaka, dll.
2.4
Persyaratan Menulis Laporan Ilmiah
Adapun syarat bagi penulisan laporan ilmiah adalah sebagai
berikut:
1.
Komunikatif, yaitu uraian yang disampaikan dapat dipahami
pembaca. Kata dan kalimat yang disusun penulis hendaknya bersifat denotative,
sehingga tidak menimbulkan penafsiran ganda pada pembaca. Pemahaman penulis
hendaknya sama dengan pemahaman pembaca.
2.
Bernalar, yaitu tulisan itu harus sistematis, berurutan secara
logis, ada kohesi dan koherensi., dan mengikuti metode ilmiah yang tepat,
dipaparkan secara objektif, benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
3.
Ekonomi, yaitu kata atau kalimat yang ditulis hendaknya
diseleksi sedemikian rupa sehingga tersusun secara padat berisi.
4.
Berdasarkan landasan teori yang kuat, yaitu suatu hasil karya
ilmiah bukan subjektivitas penulisnya, tetapi harus belandasan pada teori-teori
tertentu yang dikuasai secara mendalam oleh penulis. Penulis melakukan kajian
berdasarkan teori-teori tersebut.
5.
Tujuan harus relevan dengan disiplin ilmu tertentu, yaitu
tulisan ilmiah itu ditulis oleh seseorang yang menguasai suatu bidang ilmu
tertentu. Maka, tulisan ilmiahnya harus menunjukkan kedalam wawasan dan
kecermatan pikiran berkaitan dengan disiplin ilmu tertentu tersebut. Penguasaan
penulis pada disiplin ilmu tertentu akan tampak melalui teori, pendekatan,
pemaparan yang selalu berlandaskan pada prinsip-prinsip ilmu tertentu.
6.
Memiliki sumber penomeran mutakhir, yaitu tulisan ilmiah harus
mempergunakan landasan teori berupa teori mutakhir (terbaru). Penulis ilmiah
harus mencermati teori-teori mutakhir melalui penelusuran imternet atau jurnal
ilmiah.
7.
Bertanggung jawab, yaitu sumber data, buku acuan, dan kutipan
harus secara bertanggungjawab disebutkan dan ditulis dalam karya ilmiah. Teknik
penulisan yang tepat serta penggunan bahasa yang baik dan benar juga termasuk
bentuk tanggung jawab seorang penulis karya ilmiah.
Mukayat Brotowidjojo mengemukakan juga persyaratan bagi pembuat
laporan ilmiah itu yang menurutnya sama seperti bagi penulis karya tulis ilmiah
lainnya, yaitu sebagai berikut:
1.
Memiliki pengetahuan tangan pertama tentang hal yang dilaporkan.
Sering kali pengetahuan tangan pertama itu perlu dilengkapi dengan pengetahuan
dan pengalaman orang lain.
2.
Memiliki sifat tekun dan teliti. Laporan yang baik tidak
meninggalkan pertanyaan tak terjawab bagipembacanya. Semua kesimpulan yang
dapat ditarik dan pertanyaan-pertanyaan umum harus dibuat secara tepat. Bila
ada hal-hal yang tak lengkap, ia harus menyebutkan kekurangan-kekurangan itu
dan apa sebabnya. Semua fakta harus dicocokkan ulang. Satu kali saja pembaca
laporan menemukan pernyataan salah, ia akan meragukan isi seluruh laporan.
Pernyataan yang meragukan lebih baik dibuang saja, atau dijelaskan bahwa
meragukan. Data yang menyakinkan tiak boleh dibuang.
3.
Bersifat objektif. Pernyataan yang dibuat harus menurut
kenyataan, kesimpulan dan rekomendasi dibenarkan oleh kenyataan, walaupun
konklusi dan rekomendasi itu berlawanan dengan yang diharapkan, bahkan dapat
berakibat merugikan bagi dirinya sendiri. Pemuat laporan itu seperti sebuah ‘mesin
pemikir’, yaitu bekerja tanpa nafsu dan prasangka yang dapat mengelirukan
pengertiannya atau pernyataannya tentang fakta.
4.
Kemampuan untuk menganalisis dan menyamaratakan. Laporan itu
adalah sebuah analisis. Pembuat laporan membagi-bagi subjek, memperlihatkan
bagian-bagian yang berbeda, dan menunjukkan kaitannya satu dengan yang lain.
Berdasarkan uraian itulah dengan cara induktif sampai kepada kesimpulan.
Pelapor tidak boleh membuat kesamarataan berdasarkan beberapa data saja, atau
membuang data yang di anggap tidak mendukung konklusi yang diharapkannya,
padahal data itu tidak meragukan.
5.
Kemampuan mengatur fakta secara siistematis. Penyajian laporan
itu tidak harus diatur sistematis, mentik, supaya pembacanya tidak meragukan
tentang suatu perencanaan dan penalarannya.
6.
Pengertian akan kebutuhan pembaca. Laporan itu disajikan untuk
dibaca oleh seseorang atau beberapa orang (tim) yang spesifik. Apa yang
dilaporkan, apa yang memerlukan lukisan dan penjelasan serta bagaimana
menyusunnya, apa yang memerlukan lukisan dan penjelasan serta bagaimana
menyusunnya, semuannya itu tergantung pembacanya.